oleh: Edy Zaqeus
Salah satu pertanyaan dari para profesional yang paling sering mampir ke saya adalah yang seperti ini: Bagaimana sih cara menulis buku yang mudah itu? Memang, saya termasuk salah satu penulis yang paling demen memprovokasi kalangan tersebut supaya menulis buku. Bukan cuma menulis buku biasa, tapi menulis buku bestseller, lho! Sekalipun itu baru pengalaman menulis buku yang pertama, saya tetap menegaskan, “Beranilah bermimpi menjadi penulis buku bestseller!”
Sementara lupakan saja soal definisi bestseller. Yang penting, cita-citakan dulu buku kita akan laris di pasaran, lalu beranikan mental, niatkan segera, dan mulai sekarang juga dengan menulis apa pun yang menggoda kita untuk menulis. Sengaja saya dorong-dorong supaya para profesional itu berani menggagas buku bestseller. Mengapa? Ya, supaya semangatlah menulisnya. Kalau menulis tanpa semangat, jangan harap ada roh semangat pula dalam karya kita. Kalau hasil tulisan tidak memiliki roh atau gereget tertentu, mana ada orang yang mau beli dan membacanya, kan?
Balik lagi ke soal bagaimana cara menulis buku yang mudah, saya pun berani menyatakan bahwa menulis buku bestseller itu mudah. Sampai-sampai saya bersama Andrias Harefa (penulis 30 buku laris) mengadakan workshop berjudul “Cara Gampang Menulis Buku Bestseller”, yang pada Agustus 2008 nanti memasuki Angkatan Ke-5. Nah, bagaimana kesan para peserta workshop tersebut? Umumnya mereka sadar dan menjadi yakin, ternyata menulis buku bestseller itu memang mudah. Bagaimana itu? Saya akan kupas beberapa di antaranya dalam artikel ini.
Pertama, kalau mau menulis buku bestseller, cobalah yakin sejak awal bahwa kita semua berpeluang dan mampu melakukan hal tersebut. Penulis senior atau bahkan penulis pemula sekalipun, semuanya punya peluang yang sama untuk menggebrak pasar. Kalau sudah punya keyakinan, cobalah terus memeliharanya, lalu tambahkan dengan semangat yang sungguh-sungguh dialirkan dalam setiap langkah penulisan nantinya.
Kedua, miliki perspektif menulis buku itu mudah, yaitu sekadar aktivitas merangkai huruf, kata, kalimat, paragraf, dan tulisan. Caranya, pandanglah buku itu hanya sebagai kumpulan bab atau tulisan pendek. Sementara, bab atau tulisan pendek itu sendiri hanyalah kumpulan dari paragraf (alinea), paragraf itu sendiri hanya kumpulan dari beberapa kalimat, kalimat hanya kumpulan dari beberapa kata, dan kata hanyalah kumpulan dari beberapa huruf.
Jadi, kalau kita bisa merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata-kata menjadi kalimat, kemudian membuat kalimat-kalimat tersebut menjadi paragraf, lalu bisa merangkai sejumlah paragraf menjadi sebuah tulisan, dan terakhir menulis beberapa artikel atau tulisan pendek, ya jadilah buku itu. Sesederhana itulah! Makanya, jangan punya persepsi menulis buku itu sulit.
Ketiga, pilih tema yang pas dengan mempelajari sejarah sekaligus tren tema-tema buku bestseller. Menyangkut sejarah buku bestseller, pasti akan kita temukan tema-tema betseller yang bisa berulang. Sementara soal tren, pasti efek tarikan atas buku betseller yang sedang bergaung. Artinya, kalau ada tema buku bestseller sedang moncer di pasaran, tak menutup kemungkinan tema yang sama juga lagi digemari dan dicari. Jadi, ini peluang bagi penulis-penulis lain yang tajam penciumannya atas selera dan tren pasar.
Keempat, setelah berhasil memilih tema, buatlah outline atau kerangka tulisan. Untuk apa? Untuk mempercepat proses penulisan dan menata supaya tulisan tidak melebar ke mana-mana. Outline bisa dibuat berdasarkan cara atau gaya penulisan kita. Ada yang mampu menulis dengan baik kalau didasari oleh outline yang detail, tapi ada yang lebih efektif dengan outline sederhana. Apa pun pilihannya, efektivitas penulisan tetap menjadi pertimbangan utama. Makanya, bagi yang merasa bisa menulis dengan lebih baik dan cepat tanpa outline, ya abaikan saja outline ini.
Kelima, pilih teknik penulisan buku yang paling efektif dan efisien. Maksudnya? Pilih teknik penulisan yang paling cocok buat kita, paling membuat kita bersemangat, paling mudah dilakukan, dan tentu saja efisien secara waktu. Soal teknik ini menjadi krusial sifatnya bila kita sedang mengejar atau mengikuti tren buku tertentu. Contoh, penulisan buku berbasiskan teknik wawancara, teknik menulis cepat, dan teknik kompilasi artikel/tulisan pendek adalah teknik yang paling cocok untuk menyasar tren buku bestseller.
Keenam, kuasai teknik menulis cepat. Teknik ini didasarkan pada prinsip bahwa ide-ide dasar dan yang paling orisinal harus segera dituliskan supaya tidak menguap. Yang terpenting adalah menuliskan gagasan ketika kita sedang dalam kondisi dibanjiri oleh ide. Soal pengayaan isi dan penyuntingan bisa dilakukan pada tahapan berikutnya. Contoh aplikasi teknik ini adalah; sekali duduk atau menulis, selesailah satu tulisan (artikel) atau bab. Sekali menguasai teknik menulis cepat, masalah penundaan dan kemacetan bisa lebih mudah dihindari atau diatasi.
Ketujuh, alirkan gairah, semangat, visi, dan misi dalam setiap tulisan kita. Salah satu rahasia keberhasilan buku-buku bestseller adalah pada kemampuannya dalam “berbicara” atau menjalin hubungan emosional dengan para pembacanya. Buku yang mengesankan adalah buku yang mampu memengaruhi dan menggerakkan pembacanya dalam beragam cara.
Bagaimana caranya? Ya, selain bisa mengungkapkan pikiran-pikiran atau ide-idenya, penulis harus mampu mentransfer antusiasme, keyakinan, visi-visi, dan kejujurannya kepada pembaca. Kalau sudah begini, tanpa disuruh pun akan ada banyak pembaca yang merekomendasikan buku kita nantinya.
Kedelapan, kuasai teknik pengayaan dan penyuntingan naskah, serta sediakan waktu yang cukup untuk mengolah naskah kita. Naskah yang ditulis dengan cepat biasanya bolong di sana-sini. Pada tahap penyuntingan dan pengayaan inilah kita harus bisa mengerjakan PR kita; mengecek kembali sistematika tulisan, judul bab dan subbab, mengecek ketepatan teori dan pendekatan, kelengkapan data maupun variasi contoh kasus, pengembangan gaya bahasa populer, termasuk soal tata bahasa, dll. Pada tahap ini pula kita berkesempatan untuk meneliti dan merasakan ulang apakah naskah kita sudah cukup “berbicara” kepada calon pembaca nantinya.
Kesembilan, pilih judul yang paling pas. Bila perlu, adakan survei dengan menyodorkan sekurang-kurangnya sepuluh nomine judul. Saya yakin, ada beberapa judul yang benar-benar memiliki efek sugestif kepada para calon pembacanya. Silakan pelajari daftar buku laris versi koran-koran atau majalah, pasti mudah ditemukan judul-judul sejenis itu.
Memang judul bukan faktor yang paling menentukan, tetapi tetap saja, judul yang pas akan menjadi iklan utama bagi sebuah buku. Buku, sama halnya dengan produk lainnya, sekalipun bagus isi/kualitasnya bisa saja tidak dilirik konsumen karena iklan atau judulnya tidak memberikan impresi/kesan kesan yang bagus.
Kesepuluh, bekerjasamalah dengan editor atau penerbit. Setelah berusaha memaksimalkan semua potensi karyanya, setiap penulis harus bekerjasama dengan editor atau penerbit supaya potensi bestseller naskahnya semakin maksimal. Para editor dan penerbit berpengalaman biasanya memiliki data, informasi, atau pengalaman dalam mengolah naskah menjadi buku bestseller. Di sinilah peran mereka dalam men-dandani naskah kita supaya memiliki format, tampilan, atau kemasan yang menjual. Kadang mereka membutuhkan ide-ide orisinal kita, kadang justru kitalah yang harus berkompromi dengan strategi mereka. Semuanya butuh kerjasama demi hasil maksimal dan menguntungkan kedua belah pihak.
Nah, apakah dengan menjalankan langkah-langkah di atas dipastikan bisa menghasilkan buku bestseller? Saya katakan tidak ada jaminan. Kadang berhasil, kadang juga tidak. Masih banyak variabel yang memengaruhi dan menentukan. Tetapi kepada setiap penulis saya selalu katakan, itulah area atau variabel yang bisa kita kontrol dan maksimalkan potensinya. Setelahnya hanyalah hasil interaksi di pasar.
Namun, saya berani pastikan, menulis buku dengan cara atau strategi seperti di atas sanggup memberikan pengalaman yang sangat menggairahkan. Saya, sejumlah penulis dan penerbit, serta para klien saya, merasakan betul manfaatnya. Selamat menulis buku bestseller![ez]
* Edy Zaqeus adalah seorang trainer, editor, konsultan penulisan dan penerbitan, penulis beberapa buku bestseller, editor Pembelajar.com, dan bisa dijumpai di blog penulisannya di Ezonwriting.wordpress.com. Ia dapat dihubungi di email: edzaqeus@gmail.com.
Catatan: artikel sudah diperbaiki dan dimuat juga di majalah MATABACA Edisi Juli 2008
ref: pembelajar.com
1. Berisi desakan yang mengalir begitu cepat menuju akhir cerita.
2. Jadikan momen terbesar dalam cerita sebagai titik klimaks. Kita harus tahu klimaks cerita kita sebelum mulai menulis kemudian kita menulis dari titik tersebut. Ibarat jalan yang ruwet yang menyesatkan, yang lebih mudah dilewati kalau kita memulai pada bagian akhir dan kembali ke bagian awal. Penulis harus mengetahui tujuan mereka sebelum pergi ke sana. Begitu akhir cerita sudah dimengerti, maka cerita hanya akan menjadi pelengkap yang pasti mengarah pada akhir cerita yang sudah ditetapkan tersebut. Dan kita harus yakin, ketika kita pada akhirnya sampai ke klimaks cerita, akhirnya cerita tersebut sudah pasti luar biasa bagus.
3. Kita perlu memiliki kesadaran akan penyelesaian cerita. Maksudnya, ketika penonton/pembaca mengetahui keadaan yang akan terjadi, buatlah hal yang sudah pasti tersebut tidak terjadi atau pasti terjadi tetapi dengan menemukan cara yang sangat menarik. Contohnya, dalam cerita komedi romantis ketika pasangan kekasih pada akhirnya akan bersatu dan dalam tragedi sang jagoan pasti akan mati, kita harus menemukan cara yang sangat menarik bagaimana pasangan kekasih tersebut pada akhirnya bersatu dan jagoan tersebut akhirnya mati.
4. Buatlah protagonis mengambil keputusan yang sulit untuk memenangkan cita-citanya.
5. Akhir cerita harus konsisten dengan tema. Disini harus hadir sebagai momen yang paling kuat yang memiliki kandungan emosional yang paling kuat dari seluruh cerita yang ada, kalau tidak, kita gagal. Apapaun yang terjadi dalam cerita, cara yang dipilih untuk mengakhiri sebuah cerita menentukan tema cerita. Contoh: Sebuah komedi selayaknya menyuguhkan tawa lebar pada klimaks cerita.
Referensi:
Richard Krevolin How to Adapt Anything Into A Screenplay
Related Link:
DIAGRAM SCENE: Sasaran Babak I
DIAGRAM SCENE: Sasaran Babak II Baca Selengkapnya...
1. Membangun cerita kita disini, dengan mengambil resiko-resiko/masalah yang ada pada babak I dan meningkatkannya lebih tinggi. Konflik harus berkembang lebih kuat dan tajam.
2. Balikkan harapan-harapan. Kita harus memaksa agar protagonis mengambil resiko/masalah yang lebih besar.
3. Berikan rintangan dan kesulitan yang lebih tinggi pada protagonis. Halangi sedemikian rupa agar protagonis sangat-sangat sulit mendapatkan apa yang diinginkan.
4. Jangan membosankan. Jaga nuansa tegang dan berbahaya. Lebih banyak tindakan, bicara diusahakan sesedikit mungkin hanya untuk mendukung aksi. Gunakan kalimat ringkas padat makna.
5. Masalah pokok dalam babak ini harus mencerminkan sesuatu yang dahsyat dalam kehidupan sang protagonis. Buatlah penonton/pembaca menunda kebutuhan untuk sekedar buang air kecil.
6. Jagalah senantiasa nuansa penuh bahaya, ancaman dan ketegangan. Buatlah dalam setiap jumlah halaman tertentu meuncul permasalahan baru yang akan terus meningkatkan ketegangan. Dalam tiap adegan cerita buatlah kejutan-kejutan kecil. Kalau dalam film sering disebut 3 minutes shock, agar pembaca/penonton tetap mengikuti cerita kita.
7. Sang protagonis harus mendapati dirinya berada dalam situasi lebih buruk pada akhir babak II. Dia harus berada pada titik kritis bahkan hampir mati atau dibuat kelihatan seolah-olah mati.
8. Tokoh protagonis kita harus memilik master plan/agenda yang jelas. Seringkali kita butuh waktu untuk menjelaskan sasaran kebutuhan, dan dambaan tokoh utama, tetapi kita gagal menjelaskan hal yang sama untuk tokoh antagonis. Menangkan tokoh Antagonis kita!
Richard Krevolin How Adapt Anything Into A Screenplay.
Related Link:
DIAGRAM SCENE
DIAGRAM SCENE: Sasaran Babak I
Baca Selengkapnya...
1. Milikilah kalimat pembuka yang menarik. Sebuah skenario/draft novel akan dibeli atau diterima bukan karena mutu tulisannya, tetapi dibeli karena ide, konsep-konsep dan kalimat pembuka. Jadi kita harus memastikan bahwa kalimat pembuka itu memiliki kekuatan, menarik dan segar.
2. Pastikan pembaca bisa memihak kepada tokoh utama dan sebagian besar tokoh pendukung lainnya. Banyak orang tidak suka memihak kepada orang kaya, orang yang licik, atau orang yang bodoh. Tetapi jika tokoh protagonis yang kita miliki adalah seorang multi-miliuner, gangster, penipu, atau tipe orang yang tidak menimbulkn rasa simpati pada orang lain, pastikan tokoh ini punya banyak sifat menolong, ramah, berhati baik, berbudi halus, punya rasa humor, peduli pada orang lain, atau perilaku eksentrik. Sebagai contoh, jika ia harus kaya, buatlah dia jatuh namun akhirnya dengan susah payah dia bisa kembali memperoleh kekayaannya kembali. Disini kita sebagai penulis adalah sebagai PERAJUT MIMPI!
3. Jangan memperkenalkan tokoh baru dalam tempo yang terlalu cepat. Pikiran manusia tidak sanggup memproses data yang sedemikian banyak. Kita sebagai penulis mungkin sudah kenal baik dengan semua tokoh yang ada pada cerita kita, tetapi pembaca tidak demikian. Perkenalkan tokoh kita secara perlahan-lahan, tokoh-tokoh lain diperkenalkan melalui mata tokoh utama tersebut. Mulailah cerita dengan tokoh utama dan akhiri juga dengan tokoh utama. Pertemukan tokoh utama dengan pelaku-pelaku lain sesuai kebutuhan, dan secara pelan-pelan melalui proses, penonton/pembaca akan menyatu dengan semua orangyang perlu diketahui.
4. Harus ada satu hal yang amat penting yang dipertaruhkan. Harus ada kejelasan mengenai apa yang dipertaruhkan dan apa yang akan terjadi jika kalau sampai tokoh utama gagal mencapai cita-citanya. Kalau resiko tidak terlalu berat, saya jika menjadi penonton/pembaca akan tidak begitu peduli dengan hasilnya.
5. Pancing pembaca/penonton dalam masalah pokok cerita kita.
6. Masukkan kejadian yang merangsang emosi penonton/pembaca.
7. Perjelas sasaran tokoh utama, yaitu apa yang dipertaruhkan sebagai hasil dari sasaran yang dia miliki, dan perjelas pula alasan-alasan mengapa dia harus mencapai sasarannya.
8. Carilah momen menarik yang membelokkan ke arah cerita baru yang mengubah kehidupan tokoh utama dan mengangantarkan kita ke Babak II.
9. Genre cerita harus jelas. Patuhi aturan-aturan genre. Dalam cerita komedi tidak boleh ada kematian, kecuali black comedy, yaitu sebuah kematian yang lucu. Nada cerita harus ditentukan dan diikuti secara konsisten di sepanjang cerita.
referensi:
Richard Krevolin, How to Adapt Anything Into A Screenplay.
Related link:
DIAGRAM SCENE
Baca Selengkapnya...
7 Pertanyaan Besar yang harus dijawab.
Sebelum mulai membuat gambaran cerita kasar/sinopsis, kita harus menjawab 7 pertanyaan yang berhubungan dengan cerita. Jawaban-jawaban pertanyaan itu yang akan memandu kita dalam membuat cerita. 7 pertanyaan itu antara lain:Sebelum mulai membuat gambaran cerita kasar/sinopsis, kita harus menjawab 7 pertanyaan yang berhubungan dengan cerita. Jawaban-jawaban pertanyaan itu yang akan memandu kita dalam membuat cerita. 7 pertanyaan itu antara lain:
1. Siapakah tokoh utama Anda?
Kita hanya boleh memiliki 1 tokoh utama. Kita memulai dan mengakhiri cerita kita dengan orang ini dan ikuti dia sepanjang cerita. Tokoh utama adalah jantung cerita, kalau dia tidak disukai oleh pembaca/pemirsa maka tamatlah riwayat kita. Dan selesai tanpa akhir. Maka dari itu, kita harus memastikan bahwa tokoh utama kita adalah tokoh yang memiliki kehidupan batin yang kaya dan sifat-sifat yang mengagumkan.
2. Apa yang diinginkan/didambakan oleh tokoh utama Anda?
Hal ini menjelaskan, apa sebenarnya masalah utama yang dihadapi tokoh utama. Masalah ini adalah menyangkut kebutuhan external dan internal.Baik buruknya cerita bergantung pada tokoh utama, namun menarik tidaknya tokoh utama bergantung kepada masalah penting yang dihadapi. Kita harus memastikan bahwa apa yang dia inginkan adalah sesuatu yang diinginkan juga oleh pembaca/penonton. Rating teratas dari kebanyakan masalah adalah tentang cinta, uang dan kehidupan (kelangsungan hidup).
3. Siapa/apa yang menghalangi tokoh utama dari mendapatkan apa yang dicita-citakannya/diinginkannya?
Ini adalah siapa/apa saja yang terlihat berperan sebagai antagonis dan benar-benar jelas bahwa dia adalah antagonis.Bagus tidaknya cerita juga dipengaruhi oleh tokoh jahat dan munculnya rintangan berat di sepanjang perjalanan tokoh utama. Jadi kita jangan berbaik hati untuk membuat perjalanan hidup protagonis menjadi gampang. Kita isi kehidupan protagonis dengan banyak penderitaan, konflik dan rintangan. Antagonis tidak harus selalu bentuk manusia. Kejadian-kejadian buruk, alam raya bisa dijadikan antagonis.
4. Bagaimana pada akhirnya tokoh utama berhasil mencapai apa yang dia cita-citakan dengan cara yang luar biasa, menarik atau unik?
Dalam hal ini kita harus jeli terhadap cerita. Jadi bukan APA yang diceritakan tetapi BAGAIMANA cerita ini dipaparkan. Peristiwa yang terjadi harus segar dan tidak terduga. Kita mengarahkan pembaca/penonton mengarahkan cerita untuk dengan mudah akan menebak, namun sesungguhnya jawaban kelanjutan cerita adalah sesuatu yang tidak sama sekali mereka pikirkan. Maka akan terdengar "WOW!!!" hebat-hebat! Seharusnya saya sudah paham dari tadi." Tetapi runtutan cerita tetap harus logis. Jika tidak logi pembaca/penonton akan marah dan membuang buku kita atau meninggalkan ruangan hanya untuk memilih melihat infotainment.
5. Apa yang ingin Anda sampaikan dengan mengakhiri cerita seperti ini?
Apa tema cerita kita, dan apakah kita memiliki unsur-unsur pemadu cerita?Cerita digerakkan oleh tema. Namun juga ada beberapa unsur pemadu cerita yang bisa dianggap sebagai unsur visual, unsur naratif, atau unsur dialog yang terjadi berulang-ulang. Perulangan unsur-unsur tertentu adalah penyingkapan rahasia yang jelas atas tema-tema sadar dan dibawah sadar dari
penulis/pengarang. Sebagai contoh dalam Film Janji Joni Roll Film adalah sebagai unsur pemadu cerita yang selalu muncul dalam runtutan cerita.Atau warna merah dan bunga mawar merah selalu ada dalam Film American Beauty. Atau terdapat kata-kata boulevard, menu makanan yang dipesan dalam cerita novel boulevard yang saya tulis. Pada akhirnya tema ditentukan oleh cara kita mengakhiri cerita. Apa pesan kita ketika kita mengakhiri cerita seperti itu.
6. Bagaimana Anda mengisahkan cerita Anda?
Siapa yang harus mengisahkan cerita itu, jika ada, dan alat naratif apa yang hendak kita pakai?Apakah orang I, atau orang III, atau flashback atau dengan voice over atau gabungan? Kemungkinan besar ketika kita telah sampai draft ke ketiga atau keempat, bukanlah cerita yang menjadi permasalahan tetapi gaya/struktur bercerita biasanya menjadi pertimbangan yang perlu sangat hati-hati untuk diaplikasikan.
7. Bagaimana tokoh utama dan tokoh-tokoh pendukung lain mengalami perubahan cerita?
Ini adalah tentang perubahan. Bagaimana tokoh utama berubah sepanjang cerita. Apakah perbuahan ini wajar dan dibenarkan? Apakah perubahan itu benar-benar tahap yang logis dan berangsur-angsur sehingga menjelang akhir cerita perubahan itu bener-benar sah-sah saja? Kalau tidak ada perubahan, maka penonton/pembaca akan merasa terampas. Sebagai contoh: dalam film The Patriot (Mel Gibson), Benjamin Martin (tokoh utama) berubah dari seseorang yang mencoba untuk melupakan masa lalunya yang keras menjadi orang yang dipaksa merengkuh sifat dasarnya yang keras, dan akhirnya menjadi seseorang yang sekali lagi mungkin punya kesempatan untuk hidup damai.
referensi: How Adapt Anything Into A Screenplay, Richard Krevolin
Related link:Related link:
Just Write! : Cara Merancang Naskah Cerita
Baca Selengkapnya...

Secara grafik sebuah film dapat digambarkan sebagai berikut:
Dalam sebuah babak dalam cerita mempunyai sasaran atau ketentuan tertentu guna memperjelas cerita dan urutan cerita yang jelas dan menarik, yaitu:
Babak 1
Secara umum tiap babak memiliki kandungan isi cerita sesuai fungsinya yaitu pada babak awal atau action 1 yaitu bercerita tentang: pengenalan tokoh, setting, pengenalan masalah
resiko-resiko yang mulai ditetapkan, pemunculan antagonis, merupakan 25% dari cerita keseluruhan. [more]
Babak 2
Pada babak 2 memiliki kandungan isi yaitu tentang: Konfrontasi, babak penuh petualangan dan konflik, merupakan babak terpanjang dalam cerita film, yaitu 50 % dari cerita keseluruhan. [more]
Babak 3
Pada babak ini merupakan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Babak inilah yang merupakan klimaks yang meluncur dengan cepat kemudian diakhiri dengan ending yang mengagumkan menuju ketenangan (cooling down). Babak ini merupakan 25 % dari keseluruhan cerita. [more]
Dari keseluruhan cerita Petualangan Abdan diatas didapatkan diagram scene sebagai berikut:
Selamat membuat cerita!
Referensi: How To Adapt Anything Into A Screenplay (Richard Krevolin), Merancang Film Kartun Kelas Dunia (M. Suyanto, Aryanto Yuniawan)
Related link:
Just Write! : Cara Merancang Naskah Cerita
Panduan Merancang Sinopsis Cerita
Buanyaaak sekali didalam benak kita sudah terkonsep untuk membuat sebuah tulisan semisal cerpen atau novel, tapi ujung-ujungnya, kata-kata pertama yang harus Anda tuliskan seperti tidak mau ditorehkan pada lembaran kertas putih Anda... Jangan-jangan gak bagus... jangan-jangan gak dibaca orang, jangan-jangan kata-katanya norak, jangan-jangan... dan jangan lagi-lagi Anda berani bercita-cita jadi penulis kalo kata-kata itu yang akan muncul di benak Anda.
Menurut pengalaman saya, belum pernah saya mengalami kenikmatan menulis selain saya telah percaya diri dan tidak mempedulikan siapapun apa komentar orang-orang tentang tulisan saya... (termasuk tulisan ini.. he..he). Tapi saya nulis juga bukan asal tulis, beberapa ilmu tentang skenario dan buku-buku novel saya baca untuk menambah wawasan bagaimana menuangkan ide dalam rangkaian cerita yang dapat dinikmati diri sendiri dan orang lain.
Ada beberapa tips agar dalam menulis kita senang dan menikmati apa yang kita kerjakan secara kontinyu tanpa beban dan dapat menyelesaikan tulisan dengan cepat. Tapi itu juga relatif, tergantung dari kesungguhan dan kegigihan masing-masing orang. Dalam hal ini penulisan tentang cerpen atau novel, yaitu:
1. Temukan Ide
Anda harus menemukan Ide tentang tulisan yang akan dibuat. Ide bisa didapat dari legenda, dongeng, keseharian, dan sebagainya.
2. Tentukan Tema
Anda harus menemukan satu tema yang sangat spesifik dalam tulisan Anda. Hindari tema yang banyak mengandung tema. Cari SATU KATA yang mencakup tema dari karya Anda. Karya novel kadang juga mengandung banyak tema dan peristiwa, dalam hal ini dikerucutkan dan direduksi dalam satu konsep, SATU KATA. Contoh: Jika Anda ingin cerita tentang CINTA. Ya sudah, itu saja tema kita. tidak perlu kita menambahkan kata-kata lain selain CINTA. Dan anda harus fokus pada CINTA bukan yang lain. Walaupun dalam variasi cerita Cinta yang berlatar belakang sosial misalnya. Anda tetap harus fokus pada CINTA bukan latar belakang sosialnya! Dari awal cerita sampai akhir cerita apapun variasi cerita anda harus tidak lain dan tidak bukan yaitu tentang CINTA. Contohnya cerita tentang Titanic, ia bercerita tentang cinta. Menggunakan satu kata ini sebagai titik tolak untuk meneruskan cerita. Selain itu, satu kata tersebut dapat dipakai untuk membersihkan unsur-unsur yang tidak relevan dan membuat kita tetap fokus.
3. Tentukan Logline
Mungkin ada juga yang menyebutnya plot. Logline merupakan arahan bagi kita dan pembaca/pemirsa untuk mengetahui tentang, "sebenarnya kita ini sedang bikin cerita tentang apa sih?" Logline dalam hal ini mencakup kategori Logline Penanda pertama tentang genre. Kita mennetukan genre yang nantinya akan menjadi "taste" bagi penerbit yang akan menerbitkan buku kita. Sebagai contoh, jika Anda ingin mengirimkan naskah novel tentang tema horor dan sedikit berbau dewasa, maka Penerbit Sheila bukan tujuan Anda. Karena pasti akan ditolak.
4. Buatlah Sinopsis
Setelah menentukan logline, saatnya kita membuat sinopsis. Sinopsi merupakan gambaran cerita lengkap tentang cerita yang akan kita buat. Untuk membahas sinopsis saya akan jabarkan di lain topik khusus tentang sinopsis.
5. Kembangkan cerita Anda
Saatnya Anda mengembankan cerita seseuai dengan tema. Dalam mengembangkan cerita ini Anda bebas berkreasi, tetapi ada juga alat-alat agar cerita anda runtut dan terfokus pada jalurnya. Alat itu misalnya semacam diagram adegan.
Selamat menulis!
Sumber beberapa saya ambil dari bukunya MR. Richard Krevolin (How to Adapt Anything Into A Screenplay)
Related link:
Panduan Merancang Sinopsis Cerita
DIAGRAM SCENE
